Puasa dan Rindu Orang Tua: Doa yang Diam-Diam Menyertai Anak

Puasa dan Rindu Orang Tua: Doa yang Diam-Diam Menyertai Anak

Puasa Ramadhan sering kali membawa suasana yang berbeda di rumah orang tua. Meja makan tetap disiapkan seperti biasa, tetapi satu kursi dibiarkan kosong. Bukan karena lupa, melainkan karena rindu belum menemukan tempatnya. Anak yang dulu ramai mengisi rumah kini jauh—mondok, merantau, atau menempuh jalan hidupnya sendiri. Puasa membuat jarak itu terasa lebih dekat sekaligus lebih perih.

Menjelang sahur, orang tua terbangun lebih awal dari biasanya. Dapur menyala dalam senyap. Panci dipanaskan, nasi diaduk pelan, seolah berharap ada langkah kaki yang menyusul dari kamar sebelah. Namun yang datang hanya sunyi. Di antara uap masakan, rindu bekerja tanpa suara. Orang tua belajar berpuasa bukan hanya dari lapar, tetapi dari menahan keinginan untuk memeluk anaknya.

Siang hari berlalu dengan doa-doa kecil. Setiap selesai shalat, nama anak disebut pelan—semoga sehat, semoga kuat, semoga dimudahkan puasanya. Orang tua tidak selalu tahu apa yang sedang dilalui anaknya, tetapi percaya bahwa Tuhan Maha Menjaga. Dalam puasa, rindu tidak dilawan; ia diserahkan menjadi doa.

Waktu magrib menjadi saat paling sunyi. Takjil tersaji, adzan berkumandang, dan orang tua berbuka dengan kesederhanaan. Tidak ada tawa riuh, hanya rasa syukur yang pelan. Kadang ponsel diletakkan di dekat piring, menunggu pesan singkat: “Buk, sudah buka.” Pesan pendek itu cukup membuat hati terasa penuh.

Malam hari, selepas tarawih, orang tua menatap langit atau dinding rumah yang menyimpan banyak kenangan. Puasa Ramadhan mengajarkan satu hal yang jarang dibicarakan: merelakan. Bahwa mencintai anak juga berarti mengikhlaskan jarak, mempercayakan langkahnya, dan terus menyertakannya dalam doa.

Di bulan puasa, rindu orang tua tidak pernah benar-benar hilang. Ia berdiam di sajadah, di meja makan, dan di setiap doa yang terucap lirih. Ramadhan menjadikannya ibadah—rindu yang sabar, rindu yang berharap, dan rindu yang percaya bahwa suatu hari, doa-doa itu akan pulang bersama anak yang dirindukan.

Scroll to Top